Minggu, 29 Januari 2012

~BUKTI SHAHIHNYA TERSIMPUL DI JARI MANIS ~

~Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh..~

Dalam ajaran agama, memang masalah “jodoh” dipercaya sebagai ranah atau wilayah prerogative Sang Khalik, Allah Yang Maha Dekat, namun “cerai” bukan urusan-Nya, tapi urusan asli manusia sendiri. Bukti shahihnya tersimpul di jari manis.

Pada suatu malam, Farid dan kawan-kawannya ngobrol di sebuah kafe. Tanpa menunggu pertanyaan, Farid yang terkenal suka ngomong, ceritera perihal perceraian dengan istrinya yang ketiga. Ya, tiga kali kawin, tiga kali bercerai, dengan dalih : Perceraian pertama, gara-gara dia ketahuan selingkuh.Lalu kawin kedua,pecah karena si istri yang serong, dan yang ketiga sekarang alasannya sebagai berikut :

“Coba kalian bayangkan, tiga bulan pertama perkawinan oke-oke aje. Aku bicara, dia cuma dengar…” tuturnya. “Terus, terus?” kata seorang kawannya. “Masuk tiga bulan kedua, eh dia yang banyak bicara, dan aku jadi pendengar”, kata si Farid. “Wah, itu rumah tangga ideal dong”, kawannya yang lain interupsi. “Naa…., pada tiga bulan ketiga. Kita saling rebutan bicara. Cape deh..! Yang jadi pendengar malah tetangga”. “Ah, bisa saja kau bikin alas an untuk kawin lagi, sama tidak warasnya dengan ceritera sinetron di televisi”, komentar kawan-kawannya.
Kemudian seorang kawannya mengajak Farid agar lebih memahami makna sackal sebuah perkawinan. Dia bertanya tentang cincin kawin. “Kok dipasang di jari manis?”. “Yah, memang begitu sejak jaman dulu”, kata Farid. “Apanya yang aneh?”.

“Ini bukan soal aneh atau tidak”, sahut kawannya. “Tapi menyangkut makna hakiki dari ketemunya sepasang anak manusia”. Lima jari di tangan kita punya nama sendiri-sendiri, yaitu jempol, telunjuk, jari tengah, jari manis dan kelingking. Si jempol biasa disebut ibu jari. Kita tidak akan bertanya, kok “ibu jari?” meski yang satu ini tidak pernah didampingi “bapak jari”. Jadi, jangan tanya lagi, mana : “anak jari” . Oke?

Belum tertutup peluang bertanya tentang jari manis. Bukan menyangkut jari sebelahnya yang dinamai “jari tengah”, sebenarnya kan cocok dengan nama : “jari jahil?”, karena panjang sendiri. Bukan itu, tapi mengapa cincin kawin harus dipasang di jari manis? Kenapa bukan di jari jempol? Ini kan ibunya jari. Atau telunjuk? Ini jari yang sering menuding. Atau di jari tengah yang lebih panjang? Atau di kelingking? Kan kalau diadu menang terhadap jempol. Mengapa?. Ya, kok cicin itu tempatnya di jari manis, yang tidak masuk hitungan dalam main suit? Biasanya orang menjawab, yah begitulah adanya sejak jaman dulu. Ini namanya jawaban ogah-ogahan. Untuk mendapat jawaban yang shahih, perlu contoh kontrit.

Coba anda rapatkan kedua telapak tangan, kemudian jari tengah ditekuk ke dalam dan tempelkan. Empat jari lainnya juga saling menempel pada ujungnya. Mari kita uji, buka tempelan dua kelingking, posisi si jari tengan tetap rapat. Begitu pula ketika jempol dan telunjuk dibuka, lekatnya kari tengah tidak terusik. Kemucian. Coba buka si jari manis….apa yang terjadi? Jari tengah ikut terbongkar alias hubungan bubar-bar !. Ini bukti shahih bahwa sekali orang saling memakaikan cincin di jari manis pasangannya. Inilah isyarat sejati sebuah “kontak mati”.

Begitu sang cincin belah rotan disaungkan di jari manis sepasang anak manusia, artinya ketemu jodoh. Pada perkembangan selanjutnya, mahligai rumah tangga menjadi ambruk berantakan, dan dengan enteng orang sering bilang “kami cerai karena begitulah maunya yang di atas”. Kita berprasangka baik saja memahami istilah “maunya yang di atas” itu, artinya bukan orang yang tinggal di lantai atas. Atau ada atasan yang punya mau. Tapi karena super awam meyakini bahwa Allah….kalau memang begitu maksudnya atau menghendaki, itu “lebih dekat dari urat nadimu”. Wallahu a’lam.

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh


Tidak ada komentar:

Posting Komentar